www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Apakah Allah laki-laki atau perempuan?

Jawaban:
Ketika meneliti Alkitab, ada dua fakta yang sangat jelas: Pertama, Allah itu Roh, dan tidak memiliki karakteristik atau keterbatasan manusia. Kedua, semua bukti dalam Alkitab sepakat bahwa Allah mengungkapkan diriNya kepada manusia dalam wujud laki-laki.

Pertama-pertama, natur sejati Allah haruslah dipahami, bahwa Allah itu adalah Pribadi.

Hal ini jelas karena Allah menyatakan semua karakteristik dari sebuah kepribadian: Allah memiliki pikiran, kehendak, intelek dan perasaan. Allah berkomunikasi, memiliki relasi, dan tindakan-tindakan Allah secara pribadi nyata dalam seluruh Kitab Suci.

Sebagaimana dikatakan oleh Yohanes 4:24, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Karena Allah adalah makhluk rohani, Allah tidak memiliki karakteristik fisik secara manusia.

Namun demikian, kadang-kadang bahasa kiasan dalam Alkitab menggunakan karakteristik manusia untuk menggambarkan Allah, supaya manusia memahami Allah. Cara ini disebut “antropomorfisme.”

Antropomorfisme menjadi “kendaraan” bagi Allah (makhluk rohani) untuk mengkomunikasikan kebenaran mengenai natur diriNya kepada manusia, makhluk jasmaniah. Karena manusia itu makhluk jasmaniah, ia terbatas pengertiannya akan hal-hal yang melampaui dunia fisik. Melalui Kitab Suci, antropomorfisme digunakan untuk menolong manusia memahami siapakah Allah itu.

Beberapa kesulitan terjadi saat meneliti fakta bahwa manusia diciptakan dalam gambar Allah. Kejadian 1:26-27 mengatakan, “Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya [sendiri], menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Yang dimaksudkan dari ayat itu sebenarnya lebih mengenai perihal laki-laki maupun perempuan yang diciptakan menurut gambar Allah. Keberadaan mereka lebih agung dari semua ciptaan lainnya karena, sama seperti Allah, mereka memiliki pikiran, kehendak, intelek, perasaan dan kemampuan moral.

Satwa tidak memiliki kemampuan moral, dan tidak memiliki komponen bukan-materi sebagaimana yang dimiliki oleh manusia. Kitab Kejadian memberitahukan kita bahwa ketika manusia diciptakan Allah, Allah menciptakan manusia sesuai dengan gambarNya sendiri.

Gambar Allah adalah komponen rohani yang hanya dimiliki oleh manusia. Allah menciptakan manusia untuk memiliki hubungan dengan Dia; manusia adalah satu-satunya ciptaan yang didesain untuk tujuan tersebut.

Namun demikian, laki-laki dan perempuan hanya diciptakan sesuai dengan gambar Allah – mereka bukan duplikat dari Allah. Bahwa ada laki-laki dan perempuan tidaklah mengharuskan Allah juga memiliki ciri-ciri laki-laki dan perempuan.

Ingat, diciptakan menurut gambar Allah tidak ada sangkut pautnya dengan karakteristik fisik.

Kita tahu bahwa Allah adalah makhluk rohani dan tidak memiliki karakteristik fisik. Namun hal ini tidak membatasi bagaimana Allah menyatakan diriNya kepada umat manusia.

Kitab Suci mengandung semua wahyu yang diberikan Allah kepada manusia mengenai diriNya sendiri, dan merupakan satu-satunya sumber informasi yang obyektif mengenai Allah.

Memperhatikan apa yang diberitahukan oleh Alkitab, ada beberapa pengamatan mengenai bagaimana Allah menyatakan diri kepada umat manusia.

Sebagai contoh, Alkitab mengandung hampir 170 rujukan sebagai “Bapa.” Seseorang disebut “bapa” hanya ketika dia seorang laki-laki. Kalau yang ingin dikomunikasikan memilih menyatakan diri kepada manusia dalam wujud perempuan, maka kata yang akan dipakai pastilah “ibu” dan bukan “bapa.”

Baik dalam Perjanjian Lama dan Baru, kata ganti maskulin digunakan berulang-ulang untuk Allah.

Yesus Kristus berkali-kali mengindentifikasikan Allah sebagai Bapa, dan pada kesempatan-kesempatan lain menggunakan kata ganti maskulin untuk merujuk pada Allah. Dalam kitab-kitab Injil saja, Kristus menggunakan istilah “Bapa” hampir 160 kali, yang secara langsung merujuk pada Allah.

Yang perlu diperhatikan adalah pernyataan Kristus dalam Yohanes 10:30. Di sana Dia mengatakan, “Aku dan Bapa[Ku] adalah satu." Jelaslah bahwa Yesus Kristus datang dalam wujud seorang laki-laki ,mati di salib untuk membayar dosa dunia, dan sama seperti Allah Bapa, dinyatakan kepada manusia dalam wujud laki-laki.

Alkitab mencatat berbagai contoh lainnya di mana Kristus menggunakan kata benda dan kata ganti maskulin untuk merujuk pada Allah.

Surat-surat Perjanjian Baru (dari Kisah Rasul sampai Wahyu) juga mengandung hampir 900 ayat di mana kata “theos” – kata benda maskulin dalam bahasa Yunani – digunakan sebagai rujukan langsung pada Allah. Dalam bahasa Inggris, kata ini kebanyakan hanya diterjemahkan sebagai “God” (Allah).

Dalam berbagai rujukan kepada Allah dalam Kitab Suci, terlihat jelas ada konsistensi di mana Allah disebut dengan menggunakan gelar-gelar, kata benda dan kata ganti maskulin.

Walaupun Allah bukanlah manusia, tapi Roh, Dia memilih wujud maskulin untuk mengungkapkan diriNya kepada umat manusia. Sama halnya, Yesus Kristus, yang secara terus menerus diperkenalkan dengan gelar-gelar, kata benda dan kata ganti maskulin, mengambil wujud seorang laki-laki saat Dia hidup di bumi ini.

Para nabi Perjanjian Lama dan para Rasul Perjanjian Baru merujuk pada Allah dan Yesus Kristus dengan nama dan gelar maskulin. Allah memilih untuk mengungkapkan diri dalam wujud semacam ini untuk memudahkan manusia memahami siapakah Allah itu.

Menuntut bahwa Allah memilih wujud perempuan untuk menyatakan diri kepada manusia bertentangan dengan pola yang diperlihatkan dalam Kitab Suci. Kalau saja Allah memilih wujud feminin, maka akan ada bukti-bukti tertulisnya dalam Alkitab. Bukti itu sama sekali tidak ada.

Sekalipun Allah memberi kelonggaran untuk menolong manusia memahami diriNya, penting bagi kita untuk tidak berusaha “mengurung” Allah dengan membatasi Dia dengan apa yang tidak pantas untuk natur diriNya.