www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Dengan adanya berbagai agama, bagaimana saya tahu mana yang benar?

Jawaban:
Banyaknya agama yang berbeda dalam dunia ini tentu menyulitkan seseorang mengetahui mana yang benar. Pertama-tama, mari kita kupas beberapa pemikiran mengenai topik ini secara umum dan baru melihat bagaimana seseorang dapat mendekati topik itu dengan cara yang benar-benar dapat membantunya mencapai kesimpulan yang benar mengenai Allah.

Tantangan seperti ini tidak terbatas hanya kepada topik agama. Misalnya, 100 siswa diberikan pertanyaan matematika yang sulit. Kemungkinan banyak siswa yang salah dalam menjawabnya. Namun, apakah ini berarti tidak ada jawaban yang benar? Tentu saja tidak.

Mereka yang salah menjawab hanya perlu diperlihatkan kesalahannya dan mengetahui teknik yang diperlukan supaya bisa mendapatkan jawaban yang benar.

Bagaimana kita mendapatkan kebenaran mengenai Allah? Kita menggunakan metodologi yang sistematis, yang dirancang untuk memisahkan kebenaran dari kesalahan, dengan menggunakan berbagai tes kebenaran, di mana hasil akhirnya adalah sekumpulan kesimpulan yang benar.

Dapatkah Saudara membayangkan hasil akhir yang akan dicapai oleh seorang ilmuwan kalau dia pergi ke lab dan mulai mencampur berbagai zat tanpa irama atau alasan? Atau seorang dokter mulai mengobati seorang pasien dengan obat secara acak sambil berharap dia akan sembuh?

Ilmuwan maupun dokter tidak menggunakan pendekatan seperti ini. Sebaliknya, mereka menggunakan metode yang sistematis, logis, dapat dibuktikan, dan terbukti bisa menghasilkan hasil akhir yang benar.

Kalau demikian, mengapa teologi – kajian mengenai Allah – harus berbeda mengenai prinsip ini? Mengapa timbul anggapan bahwa teologi dapat didekati secara sembrono tanpa disiplin, tapi bisa menghasilkan kesimpulan yang benar?

Sayangnya, ini merupakan pendekatan yang dilakukan oleh banyak orang, dan inilah salah satu alasan mengapa jadi begitu banyak agama.

Setelah memahami ini, kita kembali kepada pertanyaan bagaimana kita dapat mencapai kesimpulan yang benar mengenai Allah. Pendekatan sistematis bagaimana yang harus digunakan?

Pertama-tama, kita perlu menentukan kerangka kerja untuk menguji berbagai klaim mengenai kebenaran. Kemudian, kita menentukan peta yang dapat menuntun kita untuk mencapai kesimpulan yang benar. Berikut ini sebuah kerangka kerja yang baik untuk digunakan:

1. Konsistensi logis - klaim dari suatu sistem kepercayaan harus masuk akal dan tidak bertentangan satu dengan lainnya, dengan cara apa pun. Misalnya, tujuan akhir dari Budhisme adalah menghapuskan semua keinginan.

Namun, untuk dapat menghapuskan keinginan maka seseorang harus menginginkan. Ini bertentangan, sehingga menjadi prinsip yang tidak logis.

2. Kecukupan empiris - apakah ada bukti yang mendukung sistem kepercayaan itu (baik bukti rasional, bukti dari luar, dll)? Jelas diperlukan bukti untuk klaim penting yang dibuat satu sistem kepercayaan supaya apa yang dikatakan dapat dibuktikan.

Misalnya, Mormon mengajarkan bahwa Yesus tinggal di Amerika Utara. Namun, sama sekali tidak ada bukti, baik arkeologis, maupun lainnya, yang mendukung klaim itu.

3. Relevansi eksistensial – sistem kepercayaan harus menuruti realitas sebagaimana yang kita kenal, dan harus menghasilkan perbedaan dalam hidup penganutnya.

Deisme, misalnya, mengklaim bahwa Allah melemparkan dunia yang berputar ke alam semesta, dan tidak berinteraksi dengan mereka yang berdiam di dalamnya. Bagaimana dampak kepercayaan semacam itu bagi seseorang dalam kehidupan sehari-hari? Tidak ada.

Kerangka kerja di atas, ketika diterapkan pada agama, akan mengarahkan seseorang pada pandangan yang benar akan Allah. Ada empat pertanyaan besar mengenai hidup yang perlu dijawab:

1. Asal mula - dari mana kita berasal?

2. Etika – bagaimana seharusnya kita menjalankan hidup?

3. Makna - apa tujuan hidup?

4. Nasib - ke mana arah umat manusia berjalan?

Namun, bagaimana seseorang dapat menerapkan kerangka kerja ini dalam pencarian Allah? Pendekatan menggunakan metode tanya-jawab selangkah demi selangkah merupakan cara terbaik yang bisa digunakan. Daftar pertanyaan yang perlu dipastikan jawabannya misalnya:

1. Apakah kebenaran mutlak itu ada?

2. Apakah rasio dan agama bisa dicampurkan?

3. Apakah Allah itu ada?

4. Dapatkah Allah dikenal?

5. Apakah Yesus itu Allah?

6. Apakah Allah memedulikan saya?

Pertama-tama, kita perlu mengetahui apakah kebenaran mutlak itu ada. Kalau tidak ada, maka kita tidak bisa mengetahui apa pun secara pasti (baik mengenai hal rohani atau bukan).

Kita akan menjadi seorang agnostik, tidak yakin apakah kita bisa betul-betul memutlakkan sesuatu. Atau, menjadi seorang pluralis; menerima setiap pengajaran karena kita tidak pasti mana, kalaupun ada, yang benar.

Kebenaran mutlak didefinisikan sebagai sesuatu yang sesuai dengan realita, yang sesuai dengan obyeknya, dinyatakan sebagaimana adanya. Beberapa orang mengatakan bahwa tidak ada yang namanya kebenaran mutlak. Namun, asumsi seperti ini hanya akan menghancurkan diri sendiri.

Misalnya, kaum relativis mengatakan, "Semua kebenaran itu relatif," namun seseorang harus bertanya balik kepada mereka: apakah pernyataan mereka itu benar secara mutlak? Kalau begitu, berarti kebenaran mutlak itu ada; kalau tidak, kenapa dipikirkan?

Postmodernisme tidak menerima kebenaran apa pun, namun ia tetap harus menerima paling sedikit satu kebenaran mutlak: bahwa postmodernisme itu benar adanya.

Pada akhirnya, kebenaran mutlak tidak dapat disangkali itu harus ada.

Lebih lanjut lagi, kebenaran mutlak pada dasarnya bersifat sempit dan menolak yang berlawanan dengannya. Dua tambah dua sama dengan empat, tidak mungkin ada jawaban lain yang bisa menggantikannya.

Poin ini penting untuk dipahami, terutama pada saat membandingkan satu sistem kepercayaan dan cara pandang dunia yang berbeda. Kalau satu sistem kepercayaan memiliki komponen yang terbukti kebenarannya, maka sistem kepercayaan lain yang memiliki klaim yang berlawanan dengannya sudah pasti salah.

Lagipula, kita harus ingat bahwa kebenaran yang mutlak tidak dipengaruhi oleh ketulusan dan keinginan. Tidak peduli berapa tulusnya seseorang mempercayai dusta, itu tetaplah dusta.

Tidak ada pemikiran dalam dunia yang bisa membenarkan apa yang sudah salah.

Jawaban dari pertanyaan pertama adalah: kebenaran mutlak itu ada. Karena itu, agnostisme, postmodernisme, relativisme dan skeptisime merupakan pemikiran yang salah.

Hal ini membawa kita kepada pertanyaan berikutnya mengenai apakah akal/logika dapat digunakan dalam memahami soal agama. Ada yang mengatakan tidak mungkin, namun – mengapa tidak?

Logika itu penting dalam menganalisa klaim rohani, karena logika membantu kita memahami mengapa ada klaim yang harus ditolak, sementara yang lainnya harus diterima. Logika sangat penting dalam meruntuhkan pluralisme (yang menyatakan semua klaim itu kebenaran; bahkan yang saling bertentangan pun juga benar dan sah).

Misalnya, Islam dan Yudaisme menyatakan Yesus bukan Allah, sementara kekristenan menyatakan Dia adalah Allah. Salah satu hukum dasar logika terkait prinsip tidak-bertentangan, di mana sesuatu tidak bisa merupakan "A" dan "bukan-A" pada saat bersamaan, dan dalam pengertian yang sama.

Menerapkan hukum ini kepada Yudaisme, Islam dan kekristenan, berarti secara logika kita memahami bahwa hanya salah satu dari mereka yang benar, sementara dua lainnya pasti salah.

Yesus tidak mungkin Allah dan sekaligus bukan Allah.

Digunakan secara tepat, logika merupakan senjata yang ampuh untuk meruntuhkan pluralisme karena menunjukkan bahwa klaim yang bertentangan terhadap kebenaran tidak mungkin bisa sama benarnya. Pemahaman ini merobohkan cara berpikir "benar untuk kamu, namun tidak benar untuk saya."

Logika juga membantu manusia membuang analogi “semua jalan menuju ke Roma,” yang digunakan oleh para penganut pluralis. Logika menunjukkan bahwa setiap sistem kepercayaan memiliki jalan berbeda-beda yang merujuk pada lokasi akhir yang berbeda juga.

Logika memperlihatkan bahwa ilustrasi yang tepat untuk pencarian kebenaran rohani itu seperti jalan yang rumit - satu jalur menuntun sampai kepada kebenaran, sementara semua lainnya buntu.

Semua kepercayaan memiliki kesamaan di permukaan, namun dalam inti pengajarannya justru amat berbeda.

Kesimpulannya: Saudara dapat menggunakan akal dan logika dalam urusan agama. Karena itu, pluralisme (kepercayaan bahwa semua klaim kebenaran sama benar dan sahnya) harus dibuang karena tidak logis. Ia bertentangan dengan prinsip logis bahwa kebenaran yang bertentangan bisa semuanya benar.

Pertanyaan berikutnya: apakah Allah itu ada? Kaum ateis dan naturalis, yang tidak menerima apa pun selain dunia materi menjawab “tidak.” Sekalipun sepanjang sejarah pertanyaan ini sudah banyak ditulis dan diperdebatkan, tidaklah sulit untuk menjawabnya.

Untuk memahaminya dengan baik, Saudara pertama-tama harus menanyakan pertanyaan ini: Mengapa kita memiliki sesuatu dan bukannya sama sekali tidak ada? Dengan kata lain, bagaimana Saudara dan semua yang lainnya bisa ada?

Pemikiran kenapa Allah itu ada dapat disajikan dengan amat sederhana:

Ada sesuatu.

Sesuatu tidak berasal dari yang tidak ada.

Karena itu, Pribadi yang kekal itu ada.

Saudara tidak dapat menyangkal bahwa Saudara itu ada, karena Saudara harus ada baru dapat menyangkali keberadaan Saudara. Jadi, premis pertama di atas benar adanya.

Tidak ada orang yang percaya bahwa Saudara bisa mendapatkan sesuatu dari yang tidak ada (bahwa “tidak ada” bisa menghasilkan alam sehingga), sehingga premis kedua itu juga benar adanya. Karena itu, premis yang ketiga pasti benar – ada Pribadi yang kekal yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang ada.

Ini adalah posisi yang tidak bisa disangkal oleh orang ateis yang menyatakan bahwa alam semesta ini merupakan sang pribadi kekal itu sendiri.

Namun, masalah dengan perspektif ini adalah semua bukti ilmiah menyajikan fakta bahwa alam semesta ini memiliki awal (“letusan besar”). Maka, segala sesuatu yang memiliki awal pasti memiliki penyebab. Karena alam semesta memiliki penyebab, maka dengan sendirinya ia tidak kekal.

Jika yang bisa menjadi sumber kekekalan itu hanya alam semesta yang kekal (yang sudah terbukti tidak benar) atau Pencipta yang kekal, maka kesimpulan yang logis untuk diambil adalah: Allah itu ada.

Karena itu, mengetahui keberadaan Allah secara mutlak akan menghapuskan ateisme sebagai sistem kepercayaan.

Kesimpulan ini tidak menyatakan apa-apa mengenai siapakah Allah itu sesungguhnya. Namun, yang mengagumkan adalah hal ini cukup meruntuhkan satu hal – kesimpulan ini otomatis meruntuhkan semua agama panteistik.

Semua pandangan panteistik menyatakan bahwa alam semesta itu merupakan Allah, dan karenanya bersifat kekal. Pernyataan ini tentu saja salah adanya. Jadi, secara otomatis Hinduisme, Budhisme, Jainisme dan semua agama panteistik lainnya bukanlah kebenaran.

Lebih lanjut lagi, kita mempelajari beberapa hal yang menarik mengenai Allah yang menciptakan alam semesta ini. Dia:
• Bersifat supranatural (Dia berada di luar ciptaan-Nya)
• Dia sangat berkuasa (sanggup menciptakan semua yang diketahui)
• Kekal (ada pada diriNya sendiri, karena Dia berada di luar dimensi waktu dan ruang)
• Mahahadir (Dia menciptakan ruang dan tidak dibatasi oleh ruang)
• Tanpa batas waktu dan tidak berubah (Dia menciptakan waktu)
• Tidak bersifat materi (karena Dia melampaui ruang)
• Sebagai Pribadi (yang tidak bersifat pribadi tidak dapat menciptakan kepribadian).
• Diperlukan (segala sesuatu bergantung kepadaNya)
• Tidak terbatas dan tunggal (tidak bisa ada dua yang “tidak terbatas”)
• Beraneka ragam, namun bersatu (sebagaimana alam menunjukkan keanekaragaman)
• Berakal budi (sanggup menciptakan segalanya)
• Moral (tidak ada hukum moral yang bisa ada tanpa pemberi hukum)
• Peduli (kalau tidak, tidak akan ada hukum moral yang diberikan)

Pribadi ini memperlihatkan ciri-ciri yang amat serupa dengan Allah yang disembah Yudaisme, Islam dan Kekristenan; satu-satunya iman yang masih tersisa setelah ateisme dan panteisme diruntuhkan.

Salah satu pertanyaan besar dalam hidup (asal mula) sekarang sudah terjawab: kita sudah tahu dari mana asal usul kita.

Hal ini membawa kita kepada pertanyaan berikut: dapatkah kita mengenal Allah? Pada titik ini, kebutuhan adanya agama digantikan oleh sesuatu yang lebih penting – perlunya ada pewahyuan. Supaya umat manusia dapat mengenal Allah ini, sangat tergantung pada kesediaanNya mewahyukan diri-Nya kepada ciptaan-Nya.

Yudaisme, Islam dan kekristenan sama-sama mengklaim memiliki kitab suci yang diwahyukan Allah. Tapi, pertanyaannya, yang mana (kalau ada) yang benar?

Tanpa membahas perbedaan-perbedaan kecil, ada dua pertentangan yang utama di antara mereka bertiga, yaitu 1) terkait Alkitab Perjanjian Baru 2) Pribadi Yesus Kristus.

Islam dan Yudaisme sama-sama mengklaim bahwa Alkitab Perjanjian Baru itu palsu, dan menolak bahwa Yesus itu Allah yang berinkarnasi. Sementara, kekristenan menerima keduanya sebagai kebenaran yang mutlak.

Tidak ada sistem kepercayaan lain di atas bumi ini yang dapat mengimbangi segunung bukti yang mendukung kekristenan. Mulai dari betapa banyaknya jumlah naskah-naskah kuno, mulai dari yang paling awal yaitu dokumen yang tertanggalkan pada saat para saksi mata masih hidup (beberapa hanya 15 tahun setelah kematian Kristus).

Juga mengenai banyaknya kisah yang dituliskan oleh saksi mata langsung (sembilan penulis untuk 27 kitab Perjanjian Baru).

Termasuk juga bukti arkeologis - tidak ada satupun yang bertentangan dengan klaim yang tertulis di Perjanjian Baru – termasuk fakta bahwa para rasul sampai mati pun tetap menyatakan bahwa mereka telah melihat apa yang dilakukan oleh Yesus, dan bahwa Dia bangkit kembali dari kematian.

Kekristenan justru yang menentukan standar dalam penyediaan bukti untuk mendukung klaimnya. Otentisitas historis Perjanjian Baru – bahwa ia menyajikan kisah mengenai peristiwa yang terjadi sebagaimana terjadinya - menjadi satu-satunya kesimpulan yang bisa diambil ketika semua bukti sudah ditelaah.

Mengenai Yesus, kita mendapatkan hal yang amat menarik mengenai Dia - Dia mengklaim sebagai Allah dalam wujud manusia.

Kata-kata Yesus sendiri (seperti, “Sebelum Abraham dilahirkan Aku sudah ada), perbuatan-Nya (seperti, mengampuni dosa, menerima penyembahan), hidup-Nya yang tanpa dosa dan penuh mukjizat (yang digunakan-Nya untuk membuktikan kebenaran klaim-Nya dibandingkan klaim-klaim yang bertentangan), dan kebangkitan-Nya, itu semua mendukung klaim-Nya bahwa Dia adalah Allah. Penulis Perjanjian Baru menegaskan fakta ini berulang-ulang dalam tulisan mereka.

Kalau Yesus adalah Allah, maka apa yang Dia katakan pastilah benar.

Kalau Yesus menyatakan Alkitab itu tanpa salah dan benar dalam segala yang dikatakan (dan Dia memang mengatakan demikian), hal ini berarti bahwa Alkitab memang benar mengenai apa yang dinyatakannya.

Sebagaimana yang telah kita pelajari, dua klaim kebenaran yang berlawanan tidak mungkin benar dua-duanya. Jadi segala sesuatu dalam Qur’an Islam atau tulisan Yudaisme yang bertentangan dengan Alkitab otomatis tidak mungkin benar.

Kenyataannya, baik Islam maupun Yudaisme gagal menyajikan kebenaran, karena keduanya menyatakan bahwa Yesus bukan Allah yang berinkarnasi, sementara bukti-bukti justru menyatakan sebaliknya.

Karena sekarang kita betul-betul dapat mengenal Allah (karena Dia telah mengungkapkan diri-Nya dalam firmanNya yang tertulis dan dalam Kristus), segala bentuk agnostisisme dapat ditolak.

Akhirnya, pertanyaan besar lainnya mengenai kehidupan juga bisa terjawab – yaitu mengenai etika – karena Alkitab berisikan instruksi yang jelas mengenai bagaimana umat manusia seharusnya menjalani hidupnya.

Alkitab yang sama memproklamirkan bahwa Allah itu sangat peduli kepada umat manusia dan menghendaki agar semua mengenalNya dengan intim. Bahkan, Dia begitu pedulinya sampai menjadi manusia untuk memperlihatkan kepada ciptaan-Nya, sebagaimana Dia sebenarnya.

Ada banyak orang yang berusaha menjadi Allah, namun hanya ada satu Allah yang rela mengosongkan diriNya menjadi manusia, supaya Ia dapat menyelamatkan ciptaanNya dari keterpisahan kekal dengan-Nya.

Fakta ini memperlihatkan relevansi eksistensial kekristenan, yang juga bisa menjawab kedua pertanyaan besar terakhir mengenai hidup – makna dan nasib.

Setiap orang dirancang oleh Allah dengan tujuan tertentu. Setiap orang memiliki nasib yang menantinya - baik hidup kekal bersama Allah atau hidup terpisah secara kekal dari Allah.

Kesimpulan ini (dan bahwa Allah menjadi manusia dalam Kristus) otomatis menolak Deisme, yang menyatakan bahwa Allah tidak tertarik pada urusan manusia.

Pada akhirnya, kita melihat bahwa kebenaran utama mengenai Allah dapat ditemukan. Pandangan berbelit-belit berhasil diatasi, dengan menguji berbagai klaim kebenaran, yang secara sistematis menyingkirkan klaim yang salah, sehingga pada akhirnya hanya kebenaran sejati yang tersisa.

Dengan menggunakan uji konsistensi logis, kecukupan data empiris, dan relevansi eksistensial, ditambah dengan pertanyaan yang tepat; kesimpulan yang benar dan berdasar mengenai agama dan Allah bisa ditemukan.

Setiap orang harus sepakat bahwa satu-satunya alasan untuk mempercayai sesuatu hanya jika itu memang benar adanya – itu saja.

Sayangnya, keyakinan banyak orang hanya didasari kehendak semata. Berapa banyak bukti logis yang disajikan, tetap saja ia memilih menyangkal Allah, dan tidak mau melihat satu-satunya jalan sejati, yang disediakan baginya untuk berdamai denganNya.