www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Bagaimana saya dapat menjadi anak Allah?

Jawaban:
“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya,” tertulis di Yohanes 1:12.

“Anda harus dilahirkan kembali”

Ketika dikunjungi oleh Nikodemus, tokoh agama Yahudi terkemuka, Yesus tidak segera menjamin dia masuk surga. Sebaliknya Yesus mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yohanes 3:3).

Ketika seseorang dilahirkan, dia mewarisi natur dosa yang bersumber dari ketidaktaatan Adam di Taman Eden. Tidak pernah ada yang mengajarkan seorang anak bagaimana berdosa, namun secara alamiah dia mengikuti keinginannya yang salah dan menghasilkan dosa-dosa seperti berbohong, mencuri, dan membenci.

“Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain,” jelas Paulus di Efesus 2:1-3.

Sebagai anak-anak yang berdosa, ia pantas untuk terpisah dari Allah di dalam neraka. Syukurlah penjelasan bagian Alkitab ini berlanjut, “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita—oleh kasih karunia kamu diselamatkan—” (Efesus 2:4-5).

Bagaimana seseorang bisa dihidupkan kembali sebagai anak Allah? Ia harus menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.

Menerima Yesus.

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yohanes 1:12). Bagian ini dengan jelas menegaskan bagaimana seseorang dapat menjadi anak Allah. Kita harus menerima Yesus dengan percaya kepadaNya.

Apakah yang harus kita percayai mengenai Yesus?

Pertama-tama, kita harus mengakui bahwa Yesus adalah Allah Putera yang telah menjadi manusia. Dilahirkan oleh anak dara Maria melalui kuasa Roh Kudus, sehingga Yesus tidak mewarisi natur dosa Adam. Karena itu Dia dirujuk Paulus sebagai Adam yang kedua (1 Korintus 15:22).

Kalau ketidaktaatan Adam membawa kutukan dosa ke dalam dunia, kehidupan Kristus yang sempurna menebus kehidupan manusia yang berdosa. Respon manusia hanyalah bisa bertobat (berbalik dari dosa), dan percaya pada kehidupanNya yang sempurna untuk memurnikan dirinya.

Kedua, kita harus beriman kepada Yesus sebagai Juruselamat. Rencana Allah adalah mengorbankan AnakNya yang sempurna di atas salib untuk membayar hukuman yang manusia pantas peroleh karena dosanya. Bagi yang menerima Dia, kematian Kristus membebaskan mereka dari hukuman dan kuasa dosa.

Akhirnya, kita harus mengikuti Yesus sebagai Allah. Setelah membangkitkan Kristus sebagai pemenang atas dosa dan kematian, Allah memberiNya segala kuasa (Efesus 1:20-23).

Yesus akan memimpin semua manusia yang percaya kepadaNya; sebaliknya Dia akan menghakimi semua yang menolakNya (Kisah Rasul 10:42).

Melalui anugerah Allah yang menggerakkan seseorang menuju pertobatan sejati dan iman kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, ia akan di”lahir”kan kembali dari surga sebagai anak Allah.

Hanya mereka yang percaya pada Yesus – bukan hanya sekedar mengetahui tentang Dia, namun bersandar penuh padaNya untuk keselamatan, tunduk kepadaNya sebagai Raja, dan mengasihiNya sebagai harta yang paling berharga – yang akan menjadi anak Allah.

Menjadi anak Allah

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” (Yohanes 1:12-13)

Sama halnya manusia tidak berperan apa-apa dalam kelahirannya, kita juga tidak dapat berperan apa-apa dalam ke’lahir’an kita dari surga sebagai keluarga Allah dengan berbuat baik atau beriman dengan kemampuan diri sendiri.

Sebagaimana dinyatakan oleh ayat-ayat di atas, Allah adalah yang “memberi kuasa” berdasarkan kemurahanNya. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah,” (1 Yohanes 3:1). Oleh karena itu anak Allah hanya membanggakan Allah (Efesus 2:8-9).

Seorang anak bertumbuh besar semakin hari pasti semakin mirip orangtuanya. Demikian pula Allah menghendaki anak-anakNya menjadi makin serupa dengan Yesus Kristus.

Sekalipun ia baru akan menjadi sempurna hanya ketika berada di surga, anak Allah tidak akan terus menerus hidup dalam dosa dan tidak menyesalinya. “Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya.

Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.

Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” (1 Yohanes 3:7-10)

Jangan salah tangkap, seorang anak Allah tidak “dibuang” karena berbuat dosa. Namun seseorang yang “membiasakan diri” berdosa (terus menerus menikmati dosa tanpa memedulikan Yesus dan firmanNya) menunjukkan bahwa dia tidak pernah betul-betul ter”lahir” kembali. “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu.” (Yohanes 8:44).

Di sisi lain, anak-anak Allah tidak akan menikmati kesenangan dosa tapi selalu mau mengenal, mengasihi dan memuliakan Bapa mereka.

Hak sebagai anak Allah tidaklah ternilai. Sebagai anak Allah kita dianggap sebagai bagian dari keluargaNya (Gereja), dijanjikan rumah di surga, dan diberi hak untuk menghampiri Allah sebagai Bapa dalam doa (Efesus 2:19; 1 Petrus 1:3-6, Roma 8:15).

Sambutlah panggilan Allah untuk menyesali dosa dan percaya kepada Kristus. Jadilah anak Allah hari ini juga.