www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Apa arti hidup?

Jawaban:
Apakah arti hidup? Bagaimana saya dapat menemukan tujuan, pemenuhan dan kepuasan dalam hidup ini? Apakah saya memiliki potensi untuk mencapai sesuatu yang bermakna abadi?

Banyak orang tidak pernah berhenti mencari tahu apakah arti hidup itu. Mereka memandang ke belakang dan tidak mengerti mengapa relasi mereka berantakan dan mengapa mereka merasa begitu kosong walaupun mereka telah berhasil mencapai apa yang mereka cita-citakan.

Salah satu pemain baseball, yang namanya tercatat dalam Baseball Hall of Fame, ditanya apa yang dia harapkan orang lain bersedia beritahu kepadanya di masa ketika dia mulai bermain baseball. Dia menjawab, “Saya berharap orang akan memberitahu saya bahwa ketika kamu sampai di puncak, di sana tidak ada apa-apa.”

Banyak sasaran hidup ternyata kosong ,setelah dikejar dengan sia-sia bertahun-tahun lamanya.

Dalam masyarakan humanistik kita, orang mengejar banyak cita-cita, menganggap bahwa di dalamnya mereka akan mendapatkan makna. Beberapa cita-cita ini termasuk: kesuksesan bisnis, kekayaan, relasi yang baik, seks, hiburan, berbuat baik kepada orang lain, dan sebagainya.

Namun, orang-orang ini justru menceritakan, bahwa saat mereka mencapai impian mereka dalam mengumpulkan kekayaan, relasi dan kesenangan, di dalam diri mereka ada kekosongan yang dalam, perasaan kosong yang tidak dapat dipenuhi oleh apa pun.

Penulis kitab Pengkhotbah, Salomo, menjelaskan perasaan ini ketika dia mengatakan, “Kesia-siaan belaka, kesia-siaan belaka, … segala sesuatu adalah sia-sia.”

Salomo memiliki kekayaan yang tak terkira, hikmat kebijaksanaan yang melampaui orang-orang pada zamannya maupun zaman sekarang. Dia memiliki ratusan istri, istana dan taman yang menjadikan kerajaan-kerajaan lain cemburu. Makanan dan anggur terbaik, dan segala bentuk hiburan juga sudah ia miliki. Satu saat dia berkata, segala yang diinginkan hatinya telah dikejarnya. Namun kemudian dia menyimpulkan, “hidup di bawah matahari” (hidup dengan sikap sepertinya hidup itu hanyalah apa yang kita lihat dan rasakan) adalah kesia-siaan belaka.

Mengapa bisa ada kehampaan seperti ini? Karena Allah menciptakan kita untuk sesuatu yang melampaui apa yang bisa kita alami dalam dunia sekarang ini. Tentang Allah, Salomo berkata, “Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka …”

Dalam hati kita, senantiasa ada kesadaran bahwa dunia saat ini bukan segalanya.

Dalam kitab Kejadian, kitab pertama dalam Alkitab, kita memahami bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambarNya (Kejadian 1:26). Ini berarti kita lebih mirip dengan Allah daripada ciptaan-ciptaan lainnya.

Kita juga memahami bahwa sebelum manusia jatuh dalam dosa dan bumi dikutuk: (1) Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial (Kejadian 2:18-25); (2) Allah memberi manusia pekerjaan (Kejadian 2:15); (3) Allah memiliki persekutuan dengan manusia (Kejadian 3:8); dan (4) Allah memberi manusia kuasa atas bumi ini (Kejadian 1:26). Apakah arti semua ini?

Saya percaya bahwa Allah menginginkan semua ini menambah kepuasan dalam hidup kita, namun semua ini, khususnya persekutuan manusia dengan Allah, telah dirusak oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa, dan juga oleh kutukan atas bumi ini (Kejadian 3).

Dalam kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab, di bagian akhir dari banyak peristiwa yang terjadi pada zaman akhir, Allah mengungkapkan bahwa Dia akan menghancurkan langit dan bumi ini dan membawa kekekalan dengan menciptakan langit dan bumi yang baru. Pada waktu itu, Dia akan memulihkan persekutuan dengan orang-orang yang sudah ditebus.

Sebagian besar umat manusia akan dihukum dan dilemparkan ke dalam Lautan Api (Wahyu 20:11-15). Pada waktu ini kutukan atas bumi ini akan disingkirkan, dan tidak akan ada lagi dosa, kesusahan, penyakit, kematian, kesakitan, dll (Wahyu 21:4).

Orang percaya akan mewarisi segala sesuatu, Allah akan berdiam dengan mereka dan mereka akan menjadi anak-anakNya (Wahyu 21:7). Dengan demikian kita menggenapi siklus di mana Allah menciptakan kita untuk bersekutu dengan Dia, manusia jatuh dalam dosa dan memutuskan persekutuan itu; dalam kekekalan, Allah memulihkan hubungan itu secara penuh dengan orang-orang yang Dia pandang layak.

Hidup dalam dunia ini mendapatkan segala sesuatu hanya untuk mati dan terpisah dari Allah untuk selama-lamanya adalah lebih buruk dari kesia-siaan.

Namun, Allah telah membuat jalan di mana bukan saja kebahagiaan kekal dimungkinkan (Lukas 23:43), juga sekaligus agar hidup sekarang ini memuaskan dan berarti.

Sekarang, bagaimana kebahagiaan kekal dan “surga di bumi” ini bisa diperoleh?

Sebagaimana telah diindikasikan di atas: makna hidup, baik sekarang maupun dalam kekekalan, ditemukan dalam hubungan yang dipulihkan dengan Allah; hubungan yang telah lenyap ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa.

Hari ini, hubungan dengan Allah itu dimungkinkan hanya melalui AnakNya, Yesus Kristus (Kisah Rasul 4:12; Yohanes 14:6; 1:12). Hidup kekal diperoleh ketika seseorang menyesali dosa-dosanya (tidak mau lagi hidup dalam dosa namun ingin Kristus mengubah mereka dan menjadikan mereka pribadi-pribadi yang baru) dan mulai bergantung pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka (lihat pertanyaan: “Apa itu rencana keselamatan?” untuk informasi lebih lanjut tentang topik penting ini).

Arti hidup yang sebenarnya tidak ditemukan hanya dengan mengenal Yesus sebagai Juruselamat, seindah apapun hal itu. Ia ditemukan ketika orang mulai berjalan mengikuti Kristus sebagai muridNya, belajar dari Dia, menggunakan waktu bersama denganNya melalui Alkitab, bersekutu denganNya dalam doa, dan berjalan denganNya dalam ketaatan kepada perintah-perintahNya.

Jika Anda adalah orang yang belum percaya (atau baru percaya), Anda mungkin akan mengatakan kepada diri sendiri, “Sepertinya itu tidak terlalu menggairahkan atau menyenangkan untuk saya.” Tapi tolong baca lebih lanjut. Yesus membuat pernyataan-pernyataan ini:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan" (Matius 11:28-30).

“Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10b).

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 16:24-25).

“Dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mazmur 37:4).

Apa yang dikatakan oleh ayat-ayat ini adalah bahwa kita memiliki pilihan. Kita bisa terus berusaha hidup menurut arah kita sendiri, yang sebagai hasilnya membuat kita hidup dalam kehidupan yang kosong. Atau, kita bisa memilih untuk mengikuti Allah dan rencanaNya bagi hidup kita. MengikutiNya dengan sepenuh hati, yang membuat hidup kita penuh, tercapainya cita-cita, dan sekaligus mendapatkan kepuasan karenanya.

Hal ini memungkinkan karena Pencipta mengasihi kita dan menghendaki yang terbaik bagi kita. Walau tidak selalu mudah, tapi yang justru paling memuaskan pada akhirnya.

Sebagai penutup, saya ingin membagikan sebuah perumpamaan yang saya pinjam dari seorang pendeta. Jika Anda penggemar olahraga dan memutuskan untuk pergi ke pertandingan profesional, Anda dapat membayar beberapa dollar, dan duduk di barisan paling atas di stadion, atau Anda membayar beberapa ratus dollar dan duduk dekat dengan lapangan pertandingan.

Demikian pula dengan hidup kekristenan. Menyaksikan Allah bekerja SECARA LANGSUNG bukanlah bagian dari “orang Kristen hari Minggu.” Menyaksikan Allah bekerja SECARA LANGSUNG diperuntukkan bagi murid-murid Kristus yang sepenuh hati, yang telah berhenti mengejar keinginan mereka sendiri dalam hidup ini, supaya mereka bisa terlibat dalam rencana Allah.

MEREKA telah membayar harga, ditandai dengan penyerahan penuh kepada Kristus dan kehendakNya, mereka menikmati hidup secara penuh; dan mereka bisa memandang diri sendiri, teman-teman mereka, dan Pencipta mereka tanpa ada penyesalan sedikit pun.

Sudahkah Anda membayar harga? Apakah Anda bersedia?

Jika ya, maka Anda tidak akan pernah kehilangan makna atau tujuan hidup lagi.