www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Bagaimana seharusnya seorang Kristen mengatasi perasaan bersalah yang berhubungan dengan dosa masa lampau, baik sebelum atau sesudah keselamatan?

Jawaban:
Setiap orang telah berdosa. Salah satu akibat dosa itu adalah timbulnya rasa bersalah. Kita bisa bersyukur kalau masih timbul rasa bersalah, karena hal itu mendorong seseorang untuk meminta pengampunan.

Saat seseorang berbalik dari dosa kepada Yesus Kristus dalam iman, maka dosanya diampuni. Penyesalan itu bagian dari iman, yang menuntun seseorang kepada keselamatan (Matius 3:2; 4:17; Kisah Rasul 3:19).

Di dalam Kristus, dosa yang paling keji sekalipun telah dihapuskan (lihat 1 Korintus 6:9-11 untuk daftar dari perbuatan-perbuatan tercela yang diampuni). Keselamatan itu berdasarkan anugerah, termasuk anugerah diampuni.

Setelah seseorang diselamatkan, dia masih akan berdosa. Ketika dia berdosa, Allah masih menjanjikan pengampunan. “Jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1 Yohanes 2:1).

Namun, kebebasan dari dosa tidak berarti kebebasan dari perasaan bersalah. Sekalipun dosa kita sudah diampuni, kita masih mengingatnya.

Melalui Wahyu 12:10, kita tahu bahwa kita memiliki musuh rohani yang disebut “pendakwa saudara-saudara kita”, yang tidak putus-putusnya mengingatkan kita akan kegagalan-kegagalan, kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita.

Ketika seorang Kristen mengalami perasaan bersalah, dia harus melakukan hal-hal berikut ini:

1). Akui semua dosa yang diketahui, yang sebelumnya belum diakui. Dalam kasus-kasus tertentu, perasaan bersalah itu pantas, dan karenanya pengakuan diperlukan. Seringkali kita merasa bersalah karena kita memang bersalah! (Lihat penjabaran Daud mengenai kesalahan dan penyelesaiannya dalam Mazmur 32:3-5).

2). Minta Allah mengungkapkan dosa apa saja yang masih perlu kita akui. Beranilah untuk bersikap sama sekali terbuka dan jujur di hadapan Allah. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong” (Mazmur 139:23-24a).

3). Percaya kepada janji Allah bahwa Dia akan mengampuni dosa dan menyingkirkan kesalahan berdasarkan darah Kristus (1 Yohanes 1:9; Mazmur 85:2; 86:5; Roma 8:1).

4). Ketika perasaan bersalah muncul untuk dosa-dosa yang telah diakui dan diampuni, tolak perasaan-perasaan semacam itu sebagai rasa bersalah yang keliru. Allah berpegang pada janji-Nya untuk mengampuni. Baca dan renungkan baik-baik Mazmur 103:8-12.

5). Minta pada Allah untuk menegur Iblis pendakwa Saudara, dan mintalah Allah untuk memulihkan sukacita yang datang bersama dengan kebebasan dari rasa bersalah.

Mazmur 32 merupakan kajian yang amat bermanfaat. Walaupun Daud telah berdosa luar biasa saat itu, dia mendapatkan kebebasan dari dosa dan perasaan bersalah. Dia menghadapi penyebab kesalahan dan realitas pengampunan.

Mazmur 51 menjadi bagian Alkitab lain yang baik untuk diteliti juga. Penekanan di sini adalah pengakuan dosa, ketika Daud memohon kepada Allah, dari hati yang penuh kesalahan dan kesedihan; pemulihan dan sukacita menjadi hasilnya.

Akhirnya, jika dosa sudah diakui, disesali dan diampuni, maka saatnya untuk melangkah maju. Ingat bahwa mereka yang telah datang kepada Kristus telah dijadikan ciptaan baru di dalam Dia. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17).

Bagian dari “yang lama” yang telah “berlalu” (dalam versi King James “telah lewat”) itu adalah kenangan dosa-dosa masa lampau dan rasa bersalah yang dihasilkannya.

Sayangnya, beberapa orang Kristen rentan terhadap kenangan hidup masa lampau yang berdosa itu; kenangan-kenangan yang seharusnya sudah mati dan dikuburkan sejak lama.

Ini tidak ada gunanya. Ini juga bertentangan dengan kehidupan Kristen yang berkemenangan yang Allah rencanakan bagi kita. Pepatah yang bijak mengatakan, “Kalau Allah telah menyelamatkan Anda dari kubangan, jangan terjun dan berenang lagi di dalamnya.”