www.GotQuestions.org/Indonesia



Pertanyaan: Apakah orang-percaya seharusnya dapat merasakan Roh Kudus?

Jawaban:
Sekalipun beberapa pelayanan tertentu bisa melibatkan ”perasaan” – Alkitab tidak memerintahkan kita untuk mendasarkan hubungan kita dengan Roh Kudus berdasarkan apa atau bagaimana perasaan kita.

Setiap orang-percaya yang sudah lahir kembali memiliki Roh Kudus, yang berdiam di dalamnya.

Yesus memberitahu kita bahwa ketika sang Penghibur datang, Dia akan bersama-sama dengan kita dan di dalam kita. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yohanes 14:16-17).

Dengan kata lain, Yesus mengirimkan Pribadi yang sama seperti diriNya, untuk beserta dengan kita dan di dalam kita.

Kita tahu bahwa Roh Kudus beserta dengan kita karena Firman Allah memberitahu demikian. Setiap orang yang lahir kembali akan menerima Roh Kudus, namun tidak setiap orang percaya “dikuasai” oleh Roh Kudus.

Ada perbedaan jelas di antara keduanya.

Ketika kita hidup secara kedagingan, kita tidak dikuasai oleh Roh Kudus, sekalipun Roh Kudus mendiami kita. Rasul Paulus menjelaskan kebenaran ini dengan menggunakan sebuah ilustrasi yang menolong kita untuk mengerti. “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5:18).

Banyak orang ketika membaca ayat ini menafsirkan bahwa Paulus melarang seseorang minum anggur. Namun demikian, konteks dari bagian ini lebih berbicara mengenai kehidupan dan pergumulan orang-percaya yang dipenuhi Roh Kudus.

Karena itu, di sini berbicara mengenai sesuatu dari sekedar peringatan soal minum anggur terlalu banyak. Ketika seseorang mabuk karena terlalu banyak anggur, mereka menunjukkan karakteristik tertentu: mereka sempoyongan, cara bicara mereka tidak jelas, dan kemampuan penilaian mereka terganggu. Di sini rasul Paulus sedang membuat perbandingan.

Sama seperti ciri-ciri yang tampak dari orang yang dikuasai oleh mabuk anggur, seharusnya ada karakteristik tertentu yang bisa dipakai untuk mengukur apakah seseorang dikuasai oleh Roh Kudus atau tidak.

Dalam Galatia 5:22-24, Paulus menjelaskan mengenai “buah” Roh. Ini adalah buah kepunyaan Roh Kudus dan tampak dalam hidup orang-percaya yang sudah lahir kembali, yang hidup di bahwa penguasaan Roh Kudus.

Bentuk kalimat dalam Efesus 5:18 mengindikasikan adanya proses terus menerus dipenuhi oleh Roh Kudus dalam diri orang-percaya. Karena nasihat ini adalah untuk “terus menerus dipenuhi,” maka berarti ada kemungkinan bagi seseorang untuk tidak “dipenuhi” atau dikuasai oleh Roh Kudus.

Bagian selebihnya dari Efesus 5 memberitahu kita karakteristik dari orang-percaya yang dipenuhi Roh Kudus, “dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” (Efesus 5:19-21).

Karena itu, orang-percaya yang lahir kembali tidak seharusnya dikontrol oleh hal-hal lain, selain Roh Kudus. Kita tidak dipenuhi Roh Kudus hanya karena kita “merasa” dipenuhi, tetapi karena ia adalah hak dan hadiah kepada kita di dalam Kristus.

Dipenuhi atau dikuasai oleh Roh Kudus adalah hasil dari hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Ini adalah anugerah, bukan perasaan.

Emosi bisa dan akan memperdaya kita. Ia bisa membuat kita masuk dalam keadaan emosi semata-mata terkait kedagingan kita, bukannya karena pimpinan Roh Kudus. “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” (Galatia 5:16, 25).

Kita juga tidak bisa mengabaikan bahwa ada momen ketika seseorang bisa dikuasai sedemikian rupa oleh kehadiran dan kuasa Roh Kudus. Seringkali, hal ini merupakan pengalaman emosional. Ketika hal ini terjadi, seseorang akan menjadi begitu bersukacita. Raja Daud “menari-mari dengan sukacita” (2 Samuel 6:14) ketika mereka membawa Tabut Perjanjian ke Yerusalem.

Mengalami sukacita Roh sama artinya sebagai anak-anak Allah kita diberkati oleh anugerahNya. Karena itu, sewajarnya jika pelayanan Roh Kudus dapat melibatkan perasaan dan emosi kita.

Pada saat bersamaan, sekalipun karya Roh Kudus dalam hidup bisa melibatkan “perasaan,” kita tidak boleh mengukur jaminan bahwa kita memiliki Roh Kudus hanya didasari bagaimana perasaan kita.