Mungkinkah Yesus berdosa (bisa atau tidak bisa)? Kalau Yesus tidak bisa berdosa, apa gunanya Dia dicobai?





Pertanyaan: Mungkinkah Yesus berdosa (bisa atau tidak bisa)? Kalau Yesus tidak bisa berdosa, apa gunanya Dia dicobai?

Jawaban:
Pertanyaan ini terbagi dalam dua kategori. Penting untuk mengingat bahwa ini bukanlah mengenai apakah Yesus berdosa atau tidak. Dikatakan dengan jelas oleh Alkitab, Yesus tidak berdosa.

Pertanyaannya: apakah mungkin bagi Yesus untuk berdosa?

Mereka yang berpegang pada ketidakmungkinan Yesus berdosa, percaya Yesus itu tidak bisa berbuat dosa. Mereka yang berpegang pada kemungkinan berdosa, percaya bahwa Yesus bisa saja berdosa, namun tidak berdosa. Pandangan mana yang benar?

Ajaran Alkitab yang benar adalah Yesus itu tidak mungkin berdosa – Yesus tidak bisa berdosa.

Kalau Yesus bisa berbuat dosa, sampai saat ini Dia masih tetap bisa berdosa karena Yesus memiliki esensi yang sama dengan ketika Dia masih berdiam di dalam dunia. Dia adalah Allah-manusia – dan akan selamanya demikian, memiliki keilahian dan kemanusiaan yang sempurna yang begitu menyatu dalam satu pribadi sehingga tidak dapat dibagi.

Mempercayai bahwa Yesus dapat berbuat dosa sama saja percaya bahwa Allah dapat berbuat dosa.

Kolose 1:19 berkata, “ Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.” Sementara di Kolose 2:9 berkata, “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.”

Sekalipun Yesus itu manusia yang sempurna, Dia tidak dilahirkan dengan natur dosa sebagaimana kita dilahirkan. Jelas Dia dicobai sama seperti kita, ketika pencobaan ditempatkan di hadapanNya oleh Iblis, namun Dia tetap tidak berdosa karena Allah tidak dapat berdosa. Hal itu akan berlawanan dengan naturNya (Matius 4:1; Ibrani 2:18, 4:15; Yakobus 1:13).

Berdasarkan definisinya, dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah. Allah menciptakan Taurat, dan Taurat itu secara natur adalah apa yang akan dilakukan dan tidak akan dilakukan Allah; oleh karena itu dosa adalah segala sesuatu yang tidak akan dilakukan Allah karena naturNya.

Dicobai bukanlah merupakan dosa. Seseorang bisa saja mencobaimu dengan sesuatu yang Saudara tidak inginkan, misalnya membunuh atau ambil bagian dalam tingkah laku seks yang tidak wajar. Saudara mungkin sama sekali tidak berhasrat untuk ambil bagian dalam perbuatan ini, namun Saudara akan tetap dicobai karena seseorang menempatkan kemungkinan itu di hadapanmu. Paling sedikit ada dua definisi dicobai:

1) Dicobai – mendapatkan tawaran dari seseorang atau sesuatu di luar diri Saudara, atau dari natur Saudara sendiri untuk melakukan dosa.

2) Dicobai – mempertimbangkan untuk ambil bagian dalam perbuatan dosa dan kenikmatan serta konsekuensi dari perbuatan itu sampai pada tahap di mana perbuatan tersebut sudah terjadi dalam pikiran Anda.

Definisi pertama tidak bisa dianggap berdosa, sementara definisi kedua sudah bisa dianggap berdosa. Ketika Saudara terpaku pada perbuatan dosa dan mempertimbangkan bagaimana melakukannya dengan sukses, Saudara telah berdosa.

Yesus dicobai dalam definisi pertama, terkecuali pada konteks dicobai oleh natur dosa, karena Dia tidak memiliki natur dosa. Iblis menawarkan perbuatan-perbuatan dosa tertentu kepada Yesus, namun Yesus tidak memiliki keinginan dari diriNya sendiri untuk melakukan dosa itu. Jadi, Dia dicobai sama seperti kita, namun tetap tidak berdosa.

Mereka yang berpegang pada kemungkinan Yesus untuk berdosa percaya bahwa kalau Yesus tidak dapat berdosa, Dia tidak dapat betul-betul mengalami pencobaan, dan karena itu tidak dapat benar-benar berempati dengan pergumulan dan pencobaan-pencobaan kita.

Kita harus mengingat bahwa untuk dapat memahami sesuatu, seseorang tidak harus secara langsung mengalaminya sendiri.

Allah tahu segala-galanya tentang segala-galanya. Walaupun Allah tidak punya keinginan untuk berdosa, dan jelas tidak pernah berdosa – Allah tahu dan mengerti bagaimana rasanya dicobai. Yesus dapat berempati dengan pencobaan kita karena Dia mengetahui, bukan karena Dia telah “mengalami” segala yang kita alami.

Yesus tahu bagaimana rasanya dicobai, namun Dia tidak tahu bagaimana rasanya berbuat dosa. Hal ini tidak mencegah Yesus untuk menolong kita.

Kita dicobai dengan dosa yang biasa dialami oleh orang (1 Korintus 10:13). Dosa-dosa ini secara umum dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori: keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16).

Coba perhatikan pencobaan dan dosa Hawa, demikian pula pencobaan terhadap Yesus, maka Anda akan mendapatkan bahwa semua pencobaan tersebut berasal dari ketiga kategori ini.

Yesus dicobai dalam segala cara dan kategori, sama seperti kita, namun Ia tetap suci.

Sekalipun natur kita yang sudah rusak mengakibatkan keinginan hati untuk ambil bagian dalam perbuatan dosa tertentu, kita memiliki kemampuan untuk mengatasi dosa karena kita bukan lagi budak dosa, melainkan hamba Allah (Roma 6, khususnya ayat 2, dan 16-22).



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Mungkinkah Yesus berdosa (bisa atau tidak bisa)? Kalau Yesus tidak bisa berdosa, apa gunanya Dia dicobai?