Bagaimana pendekatan teleologis memahami keberadaan Allah?



 

Pertanyaan: Bagaimana pendekatan teleologis memahami keberadaan Allah?

Jawaban:
Kata “teleologis” berasal dari kata telos, yang berarti “tujuan” atau “sasaran.” Pemikiran utamanya adalah: diperlukan seorang “pencipta tujuan” (purpose) untuk dapat memiliki tujuan. Dengan demikian, di mana kita melihat hal-hal yang jelas dimaksudkan untuk suatu tujuan, kita dapat berasumsi bahwa hal-hal tersebut diciptakan untuk suatu alasan. Dengan kata lain, sebuah rancangan akan menunjukkan si perancang.

Secara naluriah kita membuat koneksi ini sepanjang waktu. Perbedaan antara Grand Canyon dan Mount Rushmore sangat jelas – satunya dirancang, sementara satunya tidak. Grand Canyon jelas terbentuk oleh proses alam dan tidak rasional, sedangkan Mount Rushmore jelas-jelas diciptakan oleh makhluk yang cerdas – seorang perancang.

Ketika kita berjalan di pantai dan menemukan sebuah jam tangan, kita tidak berasumsi bahwa “waktu” dan “kesempatan” yang menghasilkan jam tersebut dari pasir yang berhembus. Mengapa? Karena jam tersebut memiliki tanda yang jelas sebagai hasil dari rancangan – benda ini memiliki tujuan, benda ini menyampaikan informasi, benda ini cukup kompleks, dan lain sebagainya.

Tidak ada satupun rancangan yang dipandang sebagai sesuatu yang tiba-tiba ada dalam bidang ilmiah apapun. Sebuah rancangan menunjukkan si perancang; semakin hebat rancangannya, semakin hebat pula si perancang. Dengan demikian, berdasarkan asumsi ilmu pengetahuan, alam semesta memerlukan satu perancang yang melampauinya (yaitu Sang Perancang supranatural).

Argumen teleologis menerapkan prinsip ini untuk seluruh alam semesta. Jika rancangan menunjukkan perancangnya, dan alam semesta menunjukkan tanda-tanda rancangan, maka alam semesta ini merupakan hasil rancangan. Jelas terlihat bahwa setiap bentuk kehidupan sepanjang sejarah Bumi sangatlah kompleks.

Seuntai DNA memuat informasi yang setara dengan satu jilid Encyclopedia Britannica. Otak manusia memiliki kapasitas sekitar 10 miliar gigabytes. Selain makhluk hidup di Bumi, seluruh alam semesta tampaknya dirancang untuk kehidupan. Benar-benar diperlukan ratusan kondisi supaya ada kehidupan di Bumi – segala sesuatu, mulai dari kepadatan massa bumi hingga aktivitas gempa bumi, yang harus berjalan dengan baik supaya kehidupan tetap bisa ada dan bertahan.

Kemungkinan atas semua kondisi ini bisa “terjadi bersamaan secara kebetulan” benar-benar melampaui semua imajinasi. Rasio kemungkinannya sekitar sepuluh kali lipat lebih besar dari jumlah seluruh partikel atom di seluruh alam semesta. Dengan rancangan sehebat ini, sulit untuk mempercayai bahwa manusia hanyalah sebuah peristiwa kebetulan belaka. Bahkan pertobatan Antony Flew baru-baru ini, yang dulunya adalah seorang ateis, sebagian besar disebabkan oleh argumen ini.

Selain menunjukkan keberadaan Allah, pendekatan teleologis juga menyingkapkan kekurangan dari teori evolusi. Gerakan “Rancangan Agung” (Intelligent Design) dalam bidang ilmu pengetahuan menerapkan teori informasi untuk sistem kehidupan. Mereka menyatakan kalau kebetulan atau ketidaksengajaan belaka tidak bisa menjelaskan kompleksitas kehidupan. Padahal, bakteri bersel satu pun begitu kompleks. Jika setiap bagian tidak bekerja bersama-sama dalam waktu yang bersamaan, mereka tidak memiliki potensi untuk bertahan hidup. Itu berarti bahwa bagian-bagian ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan.

Darwin mengakui bahwa teorinya akan bermasalah suatu hari nanti hanya dengan melihat kompleksitas dari mata manusia saja. Dia tidak mengetahui bahwa makhluk bersel satu saja memiliki begitu banyak kompleksitas untuk bisa dijelaskan, meskipun tanpa melibatkan keberadaan sang Pencipta!



Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia

Bagaimana pendekatan teleologis memahami keberadaan Allah?